Rumah Edukasi Kopi Wonogiri – Awal Mula
10 Juni 2020, tepat sehari menjelang 2 tahun Wonogirich, sebuah panggilan telepon masuk ke nomor kontak kami. Apa yang berikutnya terdengar benar-benar sebuah hal yang sama sekali tak terduga. Pak Sodiq selaku perwakilan dari PLN UP3 Sukoharjo menyampaikan kabar gembira. Proposal pengajuan CSR dari Wonogirich untuk pembuatan Rumah Edukasi Kopi Wonogiri telah disetujui oleh pihak PT PLN (Persero).
Proposal pengajuan tersebut telah kami ajukan sejak akhir Oktober 2019, sempat terlupakan sampai setengah tahun lamanya. Baru pada tanggal 27 April 2020 ada pesan whatsapp masuk perihal tindak lanjut dari proses validasi kelayakan diterimanya CSR untuk program kerja yang Wonogirich ajukan.
Singkat kata, setelah melengkapi beberapa persyaratan tambahan dan melewati serangkaian cek ke lapangan, pengajuan proposal untuk Re-Branding Kopi Wonogiri yang kami wujudkan menjadi Rumah Edukasi Kopi Wonogiri telah disetujui dan bisa kami mulai proses pembuatannya.
Latar belakang
Program kerja yang kami ajukan ke PLN UP3 Sukoharjo sejatinya adalah untuk Re-Branding Kopi Wonogiri dari hulu sampai hilir seperti yang Wonogirich telah lakukan selama ini. Karena bagian terpenting dari re-branding kopi adalah pada kopi itu sendiri maka Wonogirich memutuskan alokasi CSR tersebut terfokus untuk perbaikan biji kopi yang dihasilkan oleh petani. Dalam hal ini kelompok tani di Dusun Sumber, Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri.
Kenapa Conto? Tentu karena dari desa inilah awal mula Wonogirich lahir meramaikan kancah perkopian di Wonogiri. Potensi kopi (khususnya arabika) dari Desa Conto terlalu sayang untuk tidak dikembangkan, bahkan sejak lama telah tercatat dalam sejarah. Dari keyakinan itulah Wonogirich memutuskan untuk fokus pada pengembangan kopi di Desa Conto.
Salah satu kendala utama yang ada adalah pada pemrosesan kopi, yakni pada alat pemrosesan serta pengeringan. Dahulu ceri kopi dikupas dengan cara ditumbuk. Lalu pulper manual yang Wonogirich beli untuk petani pada tahun 2018 kurang memadai untuk memproses dalam jumlah besar. Sedangkan pada proses pengupasan kering dengan ditumbuk menyebabkan banyak biji kopi yang pecah.

Permasalahan lain yakni pengeringan. Dikarenakan Dusun Sumber diapit dua bukit, maka intensitas sinar matahari tidak terlalu banyak. Matahari pagi muncul pukul 9 dan tenggelam pada pukul 3 sore. Belum lagi cuaca yang sering berkabut dan lahan yang jauh dari pemukiman menyebabkan permasalahan lain. Ketika petani sedang di lahan kemudian turun hujan akan kerepotan untuk turun dari lahan mengurusi kopi yang dijemur.
Kenapa Rumah Edukasi
Wonogirich memilih penamaan dengan Rumah Edukasi Kopi Wonogiri untuk memperjelas fungsi dan manfaat utama bangunan tersebut sebagai tempat edukasi. Edukasi ke petani tentang kopi dan seluk beluknya, edukasi antar petani untuk berbagi pengalaman. Dan edukasi ke pengunjung atau wisatawan yang datang sehingga bisa menjadi tempat wisata edukasi tentang kopi.
Terdiri dari dua bangunan utama, yakni rumah pengeringan dan sentra pemrosesan. Rumah pengeringan atau drying house yang dibangun tentu tidak akan mencukupi untuk menjemur semua kopi hasil panenan petani. Rumah pengeringan ini dibangun untuk menjadi replika yang bisa dicontoh masyarakat untuk dibuat di rumah masing-masing. Tentunya dalam skala yang lebih kecil sesuai kebutuhan yang ada.
Sedangkan sentra pemrosesan dipergunakan untuk menjadi pusat pemrosesan kopi bagi kelompok tani. Ada mesin pulper bertenaga listrik dan mesin huller dengan tenaga penggerak diesel berbahan bakar premium. Semua petani dapat memanfaatkan peralatan yang ada untuk memproses hasil panen mereka. Rencana ke depan di sentra pemrosesan ini juga berperan sebagai quality control untuk buah kopi yang akan masuk ke koperasi kopi yang sedang dirintis.

Rumah Edukasi Kopi Wonogiri juga telah terpasang daya listrik 5500 VA yang menjadi sumber daya bagi mesin pulper. Pengembangan ke depan akan dipergunakan sebagai sumber daya bagi mesin grinder dan mesin kopi lainnya untuk menambah sisi edukasi lainnya terkait kopi.
