skip to Main Content
Lomba Lari Kopi Wonogiri

Lomba Lari Kopi Wonogiri

“Janganlah bermimpi soal kemenangan, berlatihlah untuk meraihnya.”

Kalimat pembuka di atas bukanlah ucapan dari seorang baracik (barista) terkenal juara kompetisi menyeduh atau latteart. Bahkan sang penulis sangat berjauhan dan sama sekali tak ada kaitannya dengan dunia kopi, karena Mo Farah, orang tersebut, adalah seorang atlet lari dari Inggris. Lalu kenapa kami mengutip quote dari seorang pelari, memangnya ada apa dengan lari, apa hubungannya dengan Wonogirich dan Kopi Wonogiri?

Seperti kita tahu saat ini Kopi Wonogiri terus berkembang dan semakin mendapat perhatian dari penggemar kopi khususnya dari kota-kota di sekitar Wonogiri. Kemunculan petani-petani kopi yang masih mempertahankan tanaman kopi di lahannya seperti Pak Sular di Desa Conto, Bulukerto, Pak Yahmin di Desa brenggolo, Jatiroto, Pak Tukiman di Desa Semagar, Girimarto dan banyak petani lainnya disusul dengan aktifnya komunitas kopi di Wonogiri untuk terjun langsung ke lapangan belajar langsung bersama petani.

Pertemuan awal pegiat kopi di Wonogiri dengan Ibu Bupati Wonogiri.

Kolaborasi tersebut awalnya sangat efektif mendongkrak popularitas kopi lokal Wonogiri. Komunitas yang diawali dan didasari semangat ngopi bareng ini perlahan mulai mendapat kepercayaan dari banyak kalangan, mulai petani sampai pejabat di pemerintahan. Beberapa gebrakan dan acara sukses terselenggaran mengusung misi yang sama, memperkenalkan keberadaan Kopi Wonogiri. Ternyata, pepatah lama masih berlaku, bahwa popularitas adalah mata pisau ganda yang tersamarkan, satu sisi memberi manfaat dan sisi lainnya terkadang melukai.

Adu cepat dimulai.

Seiring berjalannya waktu semakin banyak pihak yang masuk untuk ikut berlomba memunculkan produk olahan dengan bahan dasar kopi lokal Wonogiri, namun semakin sedikit yang berlomba untuk membantu petani memperbanyak jumlah tanaman kopi di kebun untuk meningkatkan jumlah panen buah kopi. Jumlah panen yang sangat sedikit ini diperparah dengan adanya yang menjual olahan kopi yang berjargon kopi lokal Wonogiri namun tidak jelas sumber biji kopinya.

Beberapa kubu yang terlibat dalam perlombaan kopi ini mempunyai kebijakan yang berbeda, yang lebih memikirkan penjualan akan lebih mengutamakan pembelian peralatan proses biji kopi seperti mesin sangrai untuk memproduksi kopi kemasan, sebagian lagi yakin bahwa hanya dengan memperbanyak jumlah tanaman kopi di lahan perkebunan yang ada di Wonogiri maka kota ini akan bisa kembali dikenal sebagai sentra penghasil kopi. Ajaibnya, entah atas dasar pertimbangan apa, justru pergerakan pegiat kopi di akar rumput ini seolah tanpa sokongan berarti dari pemangku kebijakan terkait, yang terjadi justru sebaliknya bahwa para pegiat kopi mengedukasi secara mandiri, petani bertanam hasil swadaya pribadi dan pengadaan peralatan produksi justru mendapat dukungan yang lebih dari instansi.

Perlu dan pentingnya penanaman.

Padahal dengan jumlah panen yang ada saat ini, stok kopi lokal Wonogiri tak akan bertahan lama untuk mencukupi kebutuhan pasar, terutama kopi arabika. Untuk kopi robusta pun beberapa pemasok green bean (biji kopi mentah) masih menerapkan pembatasan penjualan untuk menjaga ketersediaan stok sampai musim panen berikutnya. Tentunya tak akan mungkin jumlah panen akan bertambah apabila tak ada penambahan jumlah tanaman. Penanaman mandiri yang dilakukan pegiat kopi bersama petani pun jumlahnya sangat kecil dibanding ketersediaan lahan yang ada, di Bubakan, Girimarto pada Januari kemarin menanam 1500 pohon arabika, di Sukoharjo, Tirtomoyo bulan depan juga menanam kopi liberika dengan jumlah yang sama.

Bibit kopi arabika untuk Desa Bubakan.

Bibit kopi arabika untuk Desa Bubakan.

Tidak termanfaatkannya musim tanam tahun ini tentu sangat disayangkan, karena ini juga berarti menunda percepatan geliat Kopi Wonogiri selama setahun. Mengingat usia panen pohon kopi dari sejak tanam sekitar 3 tahun, maka melewatkan 1 musim tanam adalah sebuah tindakan jalan di tempat. Bisa jadi pertimbangan inilah yang membuat beberapa pihak enggan itu membantu penanaman pohon kopi bagi petani, karena waktu dari tanam sampai menghasilkan cukup panjang akan membuat hasil kerja tersebut tak bisa segera dinikmati sebagai sesuatu prestasi yang dapat dilaporkan.

Nduwe Kopi, Nandur Kopi, Nggone Kopi.

Kembali ke paragraf awal tulisan ini, bila diibaratkan perkembangan kopi sebagai lomba lari dan keuntungan dari penjualan sebagai kemenangannya, maka bisa dibilang beberapa pegiat kopi yang akrab dengan petani ini sebagai orang-orang yang tidak berfokus memikirkan kemenangan, mereka hanya berpikir bagaimana berlatih dan terus berlatih untuk meraih kemenangan sesuai mimpi mereka, kemenangan yang sebenarnya tak ada. Karena bagi mereka memang tidak ada batasan tentang ukuran kesuksesan Kopi dari Wonogiri ini, selalu akan ada target baru setelah satu tujuan terpenuhi, bukan sekedar tercapai namun terlampaui.

Harapan dan mimpi tersebut dapat diringkas dalam beberapa tahapan berupa kalimat sederhana yang mudah diingat. Dimulai pada tahun kemarin dengan “Wonogiri Nduwe Kopi” maka kami akan mundur untuk maju dengan menggiatkan “Wonogiri Nandur Kopi.” Kedua tahapan tersebut akan membutuhkan waktu beberapa tahun untuk disambung dengan tahapan berikutnya yakni “Wonogiri Nggone Kopi” – sebuah wujud kepercayaan diri bahwasanya Wonogiri dapat kembali dikenal sebagai sebuah daerah penghasil kopi seperti era abad ke-18 dulu.

Wonogiri Nduwe Kopi dalam rangka International Coffee Day di alun-alun Kota Wonogiri pada tanggal 01 Oktober 2018.
Wonogiri Nduwe Kopi dalam rangka International Coffee Day di alun-alun Kota Wonogiri pada tanggal 01 Oktober 2018.

Kalimat-kalimat sederhana tersebut sengaja kami pilih, sebab kesederhanaan memanglah cerminan pembawaan masyarakat Wonogiri. Selain itu akan lebih mudah untuk diingat masyarakat khususnya para petani, harapan kami ketika slogan penyemangat tersebut tertanam di pemikiran mereka maka kesadaran akan tumbuh dengan sendirinya. Itu terbukti ketika petani di Desa Sukoharjo akan mengadakan penanaman mandiri dengan memanfaatkan bibit kopi yang tumbuh liar di hutan Dusun Ngroto untuk ditanam bersama di kebun masing-masing.

Harapan x Anggaran.

Sebagai pelari dengan mimpi yang tinggi, sejujurnya kami tidak berbekal modal yang mencukupi bila dibandingkan kompetitor dalam dunia kopi. Semua kegiatan pemberdayaan yang kami lakukan semua berbasis kemandirian dan kepedulian, mulai dari berkunjung ke petani untuk mengenalkan petik merah dan pemrosesan yang lebih baik, mengajak menanam guna menaikkan jumlah panen kopi, semua dilakukan tanpa sokongan dari pihak manapun, teman-teman yang terlibat selalu merogoh dari saku pribadi. Kami juga tidak bisa memberikan bantuan peralatan yang memadai dan semacamnya, tidak pula bisa membelikan bibit kopi dengan jumlah yang fantastis.

Satu hal yang membahagiakan dan terus menguatkan kami adalah dukungan moral dari teman-teman ketika kami mengadakan kegiatan, selalu saja ada yang memberi support entah itu bantuan bibit, donasi, bantuan publikasi, membeli kopi produksi kami atau sekedar suntikan semangat lewat kata dan doa. Kepercayaan orang-orang di sekitar itulah yang menjadi modal kami mengajak petani untuk sama-sama belajar dan berlatih meraih kemenangan. Lomba lari Kopi Wonogiri bukanlah adu sprint jarak pendek, bukan pula sesuatu yang bisa diestafetkan, tetapi sebuah marathon jarak panjang, menempuh rute lari yang sangat jauh. Maka dari itu dibutuhkan latihan terus menerus, saling mendukung dan memberi semangat antar semua pihak untuk selalu menjaga harapan dan impian bagi kemajuan bersama kopi Wonogiri.

Pada akhirnya, jika harus menentukan titik kemenangan dari memperkenalkan Kopi Wonogiri, maka itu adalah saat di mana para petani kopi dapat hidup mandiri dari hasil panen kopi mereka, saat mereka bisa menentukan sendiri harga jual yang pantas serta sesuai jerih payah mereka.


“Seorang pelari tidak bisa berlari dengan uang di sakunya. Ia harus berlari dengan harapan di hatinya dan impian di kepalanya.”


Emil Zatopek, pelari marathon dari Cekoslowakia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top