skip to Main Content
Bertani Karena Belajar

Bertani Karena Belajar

Bertani karena belajar? Sebuah anomali bukan, ketika jumlah lulusan sarjana pertanian di Indonesia adalah terbanyak di dunia sedangkan jumlah petani di negara kita menurun 1% setiap tahunnya.

Pada bulan Juli sampai Agustus tahun ini, beberapa mahasiswa dan mahasiswi dari Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Semagar dan Desa Bubakan, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri. Khusus di Desa Semagar, program kerja beberapa dari mereka adalah untuk meningkatkan kualitas kopi robusta yang dihasilkan para petani di desa tersebut.

Karena suatu kebetulan, mereka dipertemukan dengan Wonogirich, untuk kemudian berdiskusi tentang beberapa langkah yang mungkin bisa dilakukan untuk mengakselerasi program KKN yang sudah dilaksanakan. Beberapa alumni UGM di Wonogiri juga memberi saran kepada para mahasiswa-mahasiswi dari almamater mereka.

Dari diskusi lintas pihak itu salah satu yang kami usulkan adalah para peserta KKN ini berkunjung ke Desa Brenggolo di Kecamatan Jatiroto untuk bertanya, berdiskusi dan terutama belajar langsung ke petani kopi robusta Brenggolo yang dalam tempo dua musim panen terakhir berhasil mengembangkan dengan luar biasa potensi kopi robusta.

Hasil belajar tersebut besar harapannya akan bisa diaplikasikan untuk perbaikan kualitas dan kuantitas kopi robusta Semagar agar bisa mengejar keberhasilan di Brenggolo dan kelak kualitas kopi robusta dari Wonogiri bisa merata.

Menuju Brenggolo

Setelah sebelumnya menghubungi Pak Yahmin, penggerak kelompok tani di Brenggolo dan Mas Bani, salah satu petani muda di sana, Kamis pagi 18 Juli 2019 kami berangkat dengan motor. Mas Bambang berhalangan ikut karena sedang ada keperluan ke Solo, beliau adalah pendamping desa yang mengawali komitmen petik matang dan proses pasca panen yang benar.

Dari Wonogiri ada Mas Haidar dan rombongan KKN ada 4 mahasiswa, kami bertemu di Pasar Sidoarjo lalu beriringan menuju Brenggolo. Sekitar jam 9 kami sampai di rumah Pak Yahmin, beliau menjamu kami dengan kopi arabika Brenggolo, camilan lokal dan makan siang.

Obrolan dimulai dengan cerita tentang bagaimana keberhasilan petani kopi robusta dalam menghasilkan kopi yang baik dalam berkualitas dan banyak secara kuantitas, petik merah dan matang adalah keharusan. Sambil menunggu lewat pukul 12, diskusi bertambah seru dengan bergabungnya beberapa petani yang kebetulan sedang kerja bakti memperbaiki salah satu rumah penduduk.

Belajar di Kebun Kopi

Lepas tengah hari, kami diajak Pak Yahmin untuk melihat langsung ke kebun kopi para petani. Hamparan buah kopi yang memerah tampak sejauh mata memandang, sebuah pemandangan yang sangat indah.

Pohon kopi robusta setinggi 1 sampai 2 meter dengan buat yang lebat membuat takjub adik-adik mahasiswa KKN UGM, seketika mereka tampak lebih antusias untuk segera belajar.

Pohon kopi robusta dengan buah yang lebat dan telah merah matang.
Pohon kopi robusta dengan buah yang lebat dan telah merah matang.

Pak Yahmin mengajari langkah-langkah yang diperlukan untuk memaksimalkan kopi robusta agar meningkat jumlah hasil panennya, salah satunya dengan sambung batang pohon kopi yang sudah ada dengan bibit kopi pilihan yang berbuah lebat. Selain mempermudah panen, sambung batang ini mengaktifkan kembali pohon kopi yang telah tidak produktif.

Sedangkan Pak Ismail mempraktekkan cara memanen biji kopi yang telah merah matang tanpa merusak tanaman dan ranting buah agar panen tahun depan pohon tetap produktif. Mas Bani juga menceritakan perjuangan kopi robusta Brenggolo sampai akhirnya muncul niatan di hatinya untuk ikut bertani kopi.

Para mahasiswa bergantian mencoba teknik sambung batang seperti yang diajarkan Pak Yahmin sambil sesekali bertanya dan mencatat informasi yang mereka dapatkan langsung dari para petani kopi di Brenggolo.

Mahasiswa mencoba teknik sambung batang kopi robusta.
Mahasiswa mencoba teknik sambung batang kopi robusta.

In learning you will teach, in teaching you will learn

Harapannya adalah pengalaman berharga yang hari ini mereka dapatkan dari petani kopi robusta di Brenggolo dapat ditransformasikan dan diterapkan pada budidaya kopi robusta di Desa Semagar tempat mereka melakukan KKN.

Mengingat desa tersebut juga sangat berpotensi menghasilkan kopi robusta yang bermutu, semoga niatan baik kegiatan KKN ini akan terwujud serta mampu mempercepat perbaikan mutu kopi robusta Semagar.

Terima kasih sebesarnya kepada warga terkhusus Pak Yahmin, Pak Ismail dan Mas Bani atas keramahan, pengalaman dan pembelajaran yang kami dapatkan hari ini.

Sebelum pulang dari Brenggolo kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama di kebun kopi.

Berfoto bersama Pak Yahmin , Mas Haidar, Mas Bani dan
mahasiswa .

Belajar untuk bertani, bertani karena belajar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top