skip to Main Content
NKCTHI – Nanti Kopi Cerita Tentang Hari Ini (1)

NKCTHI – Nanti Kopi Cerita Tentang Hari Ini (1)

Wonosobo Manual Brew Competition III

Dua tahun terakhir, kami sangat merasakan bahwa ternyata menjadi pelaku usaha komoditas lokal itu sungguh menyenangkan. Sambil berdagang, kita bisa sekaligus menggali, menceritakan bahkan menuliskan sejarah yang berkaitan dengan usaha apa yang kita tekuni. Dan seperti sebuah siklus, kami yakin apa yang diperjuangkan di hari ini, kelak akan berganti menceritakan perihal apa yang pernah kita lakukan. Mengutip judul sebuah film : NKCTHI – Nanti Kopi Cerita Tentang Hari Ini.

Keyakinan tersebut bertambah kuat ketika pada awal Februari 2020 ini kami berkesempatan hadir pada gelaran Wonosobo Manual Brew Competition yang ketiga atau disingkat WMBC III. Acara tahunan yang menginjak usia ketiga ini digagas oleh pegiat kopi di Wonosobo yang tergabung dalam Komunitas Join Kopi dan Kelompok Tani Kopi “Bina Sejahtera Bowongso“. Kelompok tani yang di peta kopi Nusantara dikenal melalui Arabica Bowongso dan pergerakkannya di hulu industri kopi Indonesia.

Teman-teman Join Kopi sendiri memberi tajuk bahwa WMBC III, yang terdiri dari 2 perlombaan yakni Open Service & Compulsory serta Cup Tester, bukan sekedar kompetisi. Namun lebih daripada itu, WMBC III adalah sebuah pergerakkan. Far beyond a competition, WMBC is a movement demikian sebaris kalimat yang secara tegas menyiratkan dedikasi, totalitas serta komitmen dari panitia acara untuk menjadikan acara yang mereka helat bisa menjadi sebuah dobrakan untuk memajukan kopi Wonosobo pada khususnya.

Diskusi Film Telusurasa di Acara WMBC III
Diskusi setelah screening film Telusurasa di acara WMBC III.

Pada akhir sesi hari pertama juga ada screening film Telusurasa, sebuah documentary project dari Muhammad Aga, Radiv Annaba dan Sure Pictures. Dan di episode pertama ini, mereka begitu apik menangkap 11 tahun perjuangan para petani kopi di Bowongso. Waktu sekitar setengah jam sangat terasa singkat karena perpaduan visual, cerita dan backsound music seperti membawa kita langsung ke Dusun Bowongso yang berada di lereng barat Gunung Sumbing tersebut.

Bowongso

Belajar tentang kopi dari Bowongso layaknya membaca di sebuah ruangan perpustakaan yang lengkap dan rapi di mana deretan arsip berjajar begitu runut. Sebuah hal yang mungkin terlihat sederhana namun sebenarnya sangat membutuhkan konsistensi dan effort sepenuh hati untuk bisa rutin mencatat perjalanan sejarah, bahkan sejarah diri kita sendiri. Dan Wonogirich dalam usahanya memunculkan kopi lokal Wonogiri, dengan bangga mengatakan bahwa kami belajar sangat banyak tentang kopi dari teman-teman di Bowongso.

Bowongso pula yang menjadi magnet bagi para peserta dan volunteer WMBC III yang datang dari berbagai kota di Pulau Jawa, bahkan salah satu peserta berasal dari Palembang. Narasi dan bukti nyata yang dibangun Bowongso, walau dari desa di lereng gunung, ternyata mampu menjadi jembatan penghubung antara pelaku industri kopi di Barat, Tengah dan Timur dari Pulau Jawa.

Pergerakkan petani kopi di Bowongso dan orang-orang baik di sekitarnya, pada awal ide muncul adalah untuk melakukan konservasi alam di Gunung Sumbing. Seperti wejangan dari Pak Edy Subekti (Pak Eed) berkat niat baik untuk alam itulah, alam secara luar biasa memberi hal-hal tak terduga kepada warga Bowongso, selain tingkat erosi yang menurun dan mata air yang terjaga alirannya, perihal lain yang menjadi hadiah dari alam adalah Kopi Arabica Bowongso.

Semangat kelompok tani kopi di Bowongso untuk menjaga alam, mandiri, berdikari dan berdaulat mampu menjadi inspirasi bagaimana menciptakan dan menjaga hubungan selaras dengan alam di sekitar kita.

Far beyond a competition, WMBC is a movement

Panitia WMBC III yang mayoritas juga turut serta terlibat dalam besarnya nama Bowongso sebagai penghasil kopi arabica berkualitas di Indonesia melalui acara ini ingin melangkah dalam skala lebih besar untuk menggaungkan nama Wonosobo sebagai sentra kopi bermutu di Jawa Tengah dan Indonesia.

Surya Hadie dari Depok, Jawa Barat sedang menyeduh kopi di depan para juri WMBC III.
Surya Hadie dari Depok, Jawa Barat sedang menyeduh kopi di depan para juri.

Melihat dari antusiasme mereka yang hadir dalam Wonosobo Manual Brew Competition baik sebagai peserta, relawan, juri serta penonton, pergerakkan tersebut terbukti sudah dimulai dan melaju pasti ke depan. WMBC III seolah juga menjadi bukti, bahwa tidak hanya kota besar yang mampu menyelenggarakan event kopi yang sesuai standart nasional.

Selamat dan semangat untuk semua peserta yang sudah ikut berkompetisi, berdiskusi dan berelasi lewat WMBC III. Selamat juga untuk teman-teman yang meraih score tertinggi berdasarkan penilaian dari juri dan relawan yang menjaga acara berjalan dengan lancar. Terima kasih atas kesempatan dan pengalaman yang kami dapatkan. Untuk panitia, mari istirahat dahulu, kami tidak buru-buru untuk mengatakan “Sampai Jumpa di WMBC IV” kok. Peluk hangat dari Wonogiri

Kelak, ketika menyeduh kopi-kopi dari Bowongso dan Wonosobo, orang akan merasakan keramahan warga dari hangatnya, perjuangan petani dari manisnya dan kenangan akan hari ini dari wangi aroma kopi. Nanti Kopi Cerita Tentang Hari Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top