Menanam adalah…
Menanam adalah
Banyak orang akan mengatakan “melawan” sebagai jawaban apabila mereka mendapat pertanyaan seperti judul tulisan ini. Tak salah memang, frasa Menanam adalah Melawan semakin sering kita temui dipakai dalam banyak unggahan tentang kegiatan penanaman pohon.
Ada kisah kelam dan panjang di balik munculnya istilah tersebut, yang bahkan permasalahan itu belum pada titik usai sampai sekarang. Semua berawal dari wacana pertambangan pasir besi di pesisir Pantai Kulon Progo tahun 2007 yang memantik perlawanan dari para petani.
Fragmen-fragmen perjuangan Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo (PPLP-KP) dalam mempertahankan sumber penghidupan mereka, dituliskan dalam catatan harian oleh seorang petani yang bernama Widodo. Pada tahun 2013 catatan harian tersebut -ditambah dengan naskah lain seputar perjuangan petani Kulon Progo- dibukukan dengan judul Menanam adalah Melawan (MAM).
Namun tulisan ini tidak akan membahas lebih jauh tentang konflik pertambangan dan buku MAM. Ataupun juga memakai jargon quoteable Menanam adalah Melawan dalam kegiatan penanaman kopi di Wonogiri (Wonogiri Nandur Kopi).
Makna menanam bagi kami di Wonogirich?
Pada awal tahun 2020 ini Wonogirich kembali menginisiasi penanaman pohon kopi di beberapa daerah di Wonogiri, melanjutkan Wonogiri Nandur Kopi yang berjalan sejak tahun 2019. Salah satu daerah yang tahun kemarin menjadi lokasi penanaman kopi jenis Liberica, yakni Dusun Ngroto di Desa Sukoharjo, Kecamatan Tirtomoyo kembali menjadi lokasi penanaman pada tahun ini.

Bibit kopi donasi Ibu Nuri dari Yayasan Gunungan, sejumlah 3000 batang Arabica dan Robusta diberikan beliau untuk ditanam. Ibu Nuri sudah rutin memberi donasi bibit untuk Wonogiri sejak tahun 2006, sebuah wujud dedikasi pada alam yang luar biasa.
Selain itu, penanaman tahun 2020 ini bisa terlaksana juga karena peran sahabat Wonogirich. Melalui program membeli sama dengan memberi, terkumpul sejumlah dana yang kami gunakan untuk operasional kegiatan Wonogiri Nandur Kopi 2020.
Itulah makna menanam bagi kami di Wonogirich. Menanam adalah menumbuhkan. Menumbuhkan kesadaran mencintai alam, menumbuhkan keyakinan akan potensi kopi di Wonogiri dalam menambah perekonomian petani. Menumbuhkan kepedulian antara penikmat kopi dengan petani kopi, menumbuhkan semangat kemandirian petani sebagai pelaku pembanguan, bukan sekedar obyek belaka.
Dan kami yakin semua itu sedang dalam proses bertumbuh.
Ngroto masih semangat!
Dusun Ngroto pernah melakukan kegiatan penanaman mandiri, hampir 2.000 batang kopi jenis Liberica ditanam warga di sekitar mereka. Namun karena waktu tanam sempat tertunda karena banjir dan tanah longsor, akhirnya 30% di antara kopi yang ditanam mati.
Ternyata pengalaman tersebut tidak turut mematikan semangat petani di sana untuk melanjutkan menanam kopi. Karena hal itulah di tahun 2020 kami kembali melakukan kegiatan penanaman kopi di Dusun Ngroto. Tentunya dengan perencanaan waktu yang lebih awal dibanding tahun kemarin.

19 Januari 2020 menjadi penanda Wonogiri Nandur Kopi yang pertama di tahun ini. Sejumlah 1400 bibit kopi robusta dan arabica ditanam oleh sekitar 130 petani. Ya, hampir semua petani di Dusun Ngroto ikut menanam kopi walau setelah dibagi setiap petani hanya mendapat 10 bibit.
Semua dilakukan atas permintaan warga yang tergabung dalam kelompok tani. Ingin belajar terlebih dahulu bagaimana merawat pohon kopi, baru tahun depan menanam lagi dalam jumlah besar, demikian ujar mereka. Sebuah semangat kebersamaan yang membuat kami terharu.
Selesai penanaman simbolis, kami mengadakan diskusi dengan warga di rumah Pak Harmono (Ketua RW). Ternyata yang datang kurang lebih 75 petani, semua sangat antusias untuk ngopi sambil berdiskusi. Turut hadir Bapak Kepala Desa, Tim dari P3MD Wonogiri, teman-teman Sobat Kebun dan sahabat dari AWSM.
Cucuran keringat yang telah merawat
Banyak hal telah tumbuh di Dusun Ngroto dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Kesadaran, kepedulian, keyakinan dan kemandirian mampu bertahan di tengah kekeringan panjang.
Kopi yang telah ditanam walau dengan segala kekurangan kondisi dan pengalaman ternyata tetap hidup bertambah besar. Adalah kucuran keringat semua warga yang telah mengairi pohon kopi dan segala kebaikan untuk terus hidup, terus tumbuh.
Wonogirich akan tetap membersamai para petani kopi di Wonogiri dengan bekerja keras sampai bercucur keringat. Berupaya bersama untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas panen kopi Wonogiri menjadi komoditas bernilai tinggi.
Sebagai penutup, satu hal yang selalu kami yakini, kelak kami juga akan menanam untuk menumbuhkan perlawanan!
“Gardening requires lots of water,
most of it in the form of perspiration.”
Lou Erickson – the Journal’s editorial cartoonist
(terjemahan : menanam membutuhkan banyak air, sebagian besar dalam bentuk keringat)
